MANADO Kabarpost.com - Tindak kejahatan, kekerasan, perkosaan, pelecehan seksual, perdagangan anak dan perbuatan amoral lain yang menimpa anak-anak Indonesia.

Ratusan hingga ribuan korban yang mengalami luka, trauma psikhis bahkan kematian terus berjatuhan di negara yang telah 73 tahun merdeka.

Bahkan dalam penegakan hukum terhadap perlindungan anak belum maksimal. Terlihat semakin maraknya tindak pidana dengan korban anak-anak.

Adanya hal itu, Fakultas Hukum (FH) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) bekerja sama dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, menginisiasi seminar nasional yang mengangkat tema ‘Dinamika Penegakan Hukum Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Kamis (4/10/2018).

Dekan FH Unsrat, Dr Pricilla Flora Kalalo SH MH menyampaikan undang-undang tersebut, sejauh ini belum dilaksanakan secara optimal.

Padahal, hal itu menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan maupun diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera lahir mupun batin.

“Hakekatnya penegakan hukum terhadap perlindungan anak perlu peran aktif dari masyarakat, pemerintah dan penegak hukum (kepolisian, kejaksaan dan lembaga pengadilan), serta peran aktif dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang ikut terlibat dalam penegakan hukum terhadap perlindungan anak,” ujarnya.

Mantan Warek II Unsrat menjerlaskan sebagai instritusi pendidikan tinggi, berkewajiban untuk memberikan edukasi untuk mensosialisasikan, mengamalkan ilmu dan harus menjadi pioneer dalam membantu aparat penegak hukum dan stake holder terkait.

“Bagi mahasiswa seminar ini bermanfaat sebagai bahan studi dan pembelajaran, yang pada gilirannya nanti dapat membangkitkan kepedulian dari mahsiswa untuk turut serta melakukan pencegahan atas tindakan-tindakan kriminal terhadap anak karena tugas tersebut bukan hanya dibebankan pada pemerintah dan institusi penegak hukum saja, tetapi seluruh elemen,”terangnya.

 Sememtara Ketua Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyampaikan ‘Kondisi dan Fenomena Anak Indonesia’, sempat mengungkap data bahwa anak di Indonesia terancam kejahatan seksual. 

Pelaku kejahatan seksual 18% pelaku anak berusia 14 tahun,  84% pelaku berusia 15 sampai 17 tahun.

“Bentuk kekerasan seksual sodomi, perkosaan, pelecehan seksual, percabulan dan oral seks, dengan

usia korban 15% para korban kekerasan seksual berusia 12 tahun atau lebih muda dan 29% berusia 12 sampai 17 tahun.  Triger pemicunya adalah minuman keras, narkoba, pornografi dan pengaruh zat adiktif lainnya dan perkosaan,” bebernya sembari menambahkan bahwa data dari Januari hingga Juli 2018 adalah 1,129 kasus.

“52% adalah kekerasan seksual,” ujarnya.

Sirait mengatakan jika terjadi kekerasan terhadap anak dan orang tua membiarkan maka secara hukum telah turut melakukan pelanggaran hukum. 

Hal itu dapat dijerat hukuman pidana.

“Tidak ada toleransi tidak ada kata damai dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak dengan hukuman pidana seberat-beratnya hingga hukuman mati,” tegasnya.

 

(tian)

 

Terpopuler

SMKN 3 Manado Gelar Pelaksanaan Daring dan Luring
19 Jul 2020 09:21 - Redaksi

Pelaksanaan IHT di SMKN 3 Manado.   MANADO Kabarpost.com - Seluruh guru SMKN 3 Manado mengikuti  [ ... ]

Tim 'Sahabat Joune Ganda' Bangga Bisa Bantu Warga
19 Sep 2019 09:58 - Redaksi

Tim Sahabat Joune Ganda Kabupaten Minahasa Utara     MINUT Kabarpost.com - Keberadaan posko rel [ ... ]

Pengaruh Miras, Lelaki Ini Tega Membacok Oma 52 Ta...
27 Aug 2020 12:28 - Redaksi

Pelaku penganiayaan yang ditangkap.   MANADO Kabarpost.com - Seorang lelaki berinisial LP alias L [ ... ]

Jalankan Instruksi Gus Muhaimin, DPC PKB Manado Sa...
20 Apr 2020 14:50 - Redaksi

PENYALURAN bantuan kepada masyarakat yang terdampak virus corona oleh pengurus DPC Kota Manado, Seni [ ... ]

Other Articles
Fh unsrat
Elena
Elena 2
Paskah